Thursday, February 28, 2013

Berbakti Kepada Orangtua


 Suatu hari ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai harta kekayaan dan anak. Sementara ayahku berkeinginan menguasai harta milikku dalam pembelanjaan. Apakah yang demikian ini benar?” Maka jawab Rasulullah, “Dirimu dan harta kekayaanmu adalah milik orang tuamu.” (HR. Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah).

Begitulah, syari’at Islam menetapkan betapa besar hak-hak orang tua atas anaknya. Bukan saja ketika sang anak masih hidup dalam rengkuhan kedua orang tuanya, bahkan ketika ia sudah berkeluarga dan hidup mandiri. Tentu saja hak-hak yang agung tersebut sebanding dengan besarnya jasa dan pengorbanan yang telah mereka berikan. Sehingga tak mengherankan jika perintah berbakti kepada orang tua menempati ranking ke dua setelah perintah beribadah kepada Allah dengan mengesakan-Nya.

Allah berfirman (artinya), “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada ibu bapakmu.” (QS. An-Nisa:36)


Birrul Walidain, Bagaimana Caranya?


Sebagai anak, sebenarnya banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengekspresikan rasa bakti dan hormat kita kepada kedua orang tua. Memandang dengan rasa kasih sayang dan bersikap lemah lembut kepada mereka pun termasuk birrul walidain.
Allah berfirman (artinya), “Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia, dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.” (QS. Al-Isra’:23). 

Dalam kitab Adabul Mufrad, Imam Bukhari mengetengahkan sebuah riwayat bersumber dari Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir melalui Urwah, yang menjelaskan mengenai firman Allah: 
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang.” Maka Urwah menerangkan bahwa kita seharusnya tunduk patuh di hadapan kedua orang tua sebagaimana seorang hamba sahaya tunduk patuh di hadapan majikan yang garang, bengis, lagi kasar.

Pada suatu ketika, ada seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia bersama seorang laki-laki lanjut usia. 


Rasulullah bertanya, “Siapakah orang yang bersamamu?” 


Maka jawab laki-laki itu, “Ini ayahku."


Rasulullah kemudian bersabda, “Janganlah kamu berjalan di depannya, janganlah kamu duduk sebelum dia duduk, dan janganlah kamu memanggil namanya dengan sembarangan serta janganlah kamu menjadi penyebab dia mendapat cacian dari orang lain.” (Imam Ath-Thabari dalam kitab Al-Ausath).



Berbakti kepada orang tua tak terbatas ketika mereka masih hidup, tetapi bisa dilakukan setelah mereka wafat. Hal itu pernah ditanyakan oleh seorang sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka Rasulullah menjawab, 
“Yakni dengan mengirim doa (mendo’akan) dan memohonkan ampunan. Menepati janji dan nadzar yang pernah diikrarkan kedua orang tua, memelihara hubungan silaturahim sera memuliakan kawan dan kerabat orang taumu.” 

Demikian Imam Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban meriwayatkannya bersumber dari Abu Asid Malik bin Rabi’ah Ash-Sha’idi.

Bukan dalam Syirik dan Maksiat
Meski kita diperintah untuk taat dan patuh kepada mereka, namun hal itu tak berlaku ketika keduanya memerintahkan kita untuk menyekutukan Allah dan bermaksiat kepada-Nya. Rasulullah bersabda,”Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiyat kepada Allah.” (HR. Ahmad).


Kita tentu ingat kisah seorang sahabat, Sa’ad bin Waqash yang diberi dua buah opsi oleh ibunya yang masih musyrik: kembali kepada kemusyrikan atau  ibunya akan mogok makan dan minum sampai mati. Ketika sang ibu tengah melakukan aksinya selama tiga hari tiga malam, beliau berkata,”Wahai Ibu, seandainya Ibu memiliki 1000 jiwa kemudian satu per satu meninggal, tetap aku tidak akan meninggalkan agama baruku (Islam). Karena itu, terserah ibu mau makan atau tidak.” Melihat sikap Sa’ad yang bersikeras itu maka ibunya pun menghentikan aksinya.


Sehubungan dengan peristiwa itu, Allah menurunkan ayat: 


“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman:15). 


Jadi, kalau orang tua mengajak ke arah kemusyrikan maka tidak wajib bagi kita menaati mereka. Hanya saja sebagai anak tetap berkewajiban bergaul dengan baik selama di dunia. Sikap santun harus senantiasa kita jaga.


Awas: Durhaka!



Durhaka kepada orang tua (‘uquuqul walidain) termasuk dalam kategori dosa besar. Bentuknya bisa berupa tidak mematuhi perintah, mengabaikan, menyakiti, meremehkan, memandang dengan marah, mengucapkan kata-kata yang menyakitkan perasaan, sebagaimana disinggung dalam Al-Qur’an: 
“Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan ‘ah’ kepada orang tua.” (QS. Al-Isra’ : 23). Jika berkata ‘ah/cis/huh’ saja tidak boleh, apalagi yang lebih kasar daripada itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa membuat hati orang tua sedih, berarti dia telah durhaka kepadanya.” (HR. al Bukhari). 

Dalam kesempatan lain Rasulullah bersabda, “Termasuk perbuatan durhaka seseorang yang membelalakkan matanya karena marah.” (HR ath Thabrani).

Orang tua kita, siapa pun orangnya, memang harus dihormati, apalagi jika beliau seorang muslim. 


Rasulullah pernah berpesan, 

“Seorang muslim yang mempunyai kedua orang tua yang muslim, kemudian ia senantiasa berlaku baik kepadanya, maka Allah berkenan membukakan dua pintu surga baginya. Kalau ia memiliki satu orang tua saja, maka ia akan mendapatkan satu pintu surga terbuka. Dan kalau ia membuat kemurkaan kedua orang tua maka Allah tidak ridha kepada-Nya.” 

Maka ada seorang bertanya, “Walaupun keduanya berlaku zhalim kepadanya?” 


Jawab Rasulullah, “Ya, sekalipun keduanya menzhaliminya.” (HR. al Bukhari).


Berhubungan dengan orang tua memang harus hati-hati. Jangan sampai hanya karena emosi, kelalaian, ketidaksabaran plus rasa ego kita yang besar, kita terjerumus ke dalam ‘uququl walidain yang berarti kemurkaan Allah. Na’udzubillah.


Bukankah dalam sebuah hadits Rasulullah pernah berpesan bahwa keridhaan Allah subhaana wa ta’ala berada dalam keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada dalam kemarahan orang tua? Dus, selagi masih ada waktu dan kesempatan, tunjukkanlah cinta, sayang, hormat, dan bakti kita kepada keduanya, hanya untuk satu tujuan: meraih cinta, ampunan, pahala, dan ridha-Nya.



SMPIT THARIQ BIN ZIYAD

“Assalamualaikum..”

“Waalaikumsalam..”

Kata sapaan yang biasa digunakan di salah satu lingkungan sekolah dengan visi dan misi untuk mencerdaskan generasi muda dan menjadikan pribadi yang baik. SMPIT Thariq Bin Ziyad, ya, sekolah yang sudah banyak di dengar di telinga masyarakat sekitar, adalah salah satu sekolah yang menjunjung tinggi akhlak dan pribadi secara islami. Dengan melakukan murojaah hadits dan hafalan Qur’an setiap pagi hari dan belajar menyampaikan informasi di depan siswa yang ada dengan baik. Murid murid yang selalu akrab dengan gurunya menjadi salah satu karakteristik siswa SMPIT Thariq Bin Ziyad, baik saat belajar maupun diluar jam belajar.


Disisi lain SMPIT TBZ ini memiliki beberapa Organisasi yang bisa dijadikan untuk pelajaran dalam berorganisasi, memimpin, menghormati pendapat orang lain, dll. Contohnya OSIS, OSIS dengan kepanjangan Organisasi Siswa Intra Sekolah ini biasa mengadakan acara acara ajang bakat untuk menunjukan kebisaan dari seluruh siswa. Thariq Bin Ziyad Mencari Bakat, adalah satu contoh dari beberapa acara yang diselenggarakan OSIS, TBZMB ini terinspirasi dari ajang bakat yang ada di salah satu acara TV lokal, pada acara ini setiap kelas harus menampilkan kebisaan mereka untuk mewakili masing masing kelasnya. Tentunya dalam acara ini pasti ada jurinya.
Nah, jurinya ini dari warga TBZ juga. Ibu/bapak gurulah yang menjadi juri uuntuk menilai setiap kelas, soal juri gakalah eksis sama juri juri di Indonesia Mencari Bakat, hihi.
Juri yang serius menilai para peserta 



Suasana kemeriahan TBZMB


Selain OSIS ada juga Pramuka, Organisasi ini lebih sering mengikuti lomba lomba bersama Pramuka SIT di luar sekolah, karena Pramuka lebih identik sama pertualangan jadi lebih sering keluar sekolah juga.
Organisasi Pramuka SIT ini sudah mengikuti acara Pramuka SIT diluar sekolah seperti KEMNAS atau Kemah Nasioanal yang dilaksanakan di sekitar Jawa Barat, dalam acara ini SMPIT TBZ mendapat kebanggan karena salah satu dari siswa SMPIT TBZ ini menjadi Pemimpin pasukan di acara KEMNAS tersebut.


Jurnalistik, juga menjadi salah satu organisasi yang ada di lingkungan SMPIT TBZ, Jurnalistik ini biasanya meng-update mading mading yang ada di lingkungan sekolah, mulai dari acara yang baru selesai diselenggarakan sampai profil guru guru yang ada di sekolah

Ada juga, para ilmuwan remaja lebih sering di sebut SC alias Sciences Club, anak anak Sciences Club ini kegiatannya lebih sering ber-experiment dan juga ada materi yang disampaikan Pembina SC.

MAIS, kalo ini bukan organisasi, melaikan salah satu program yang harus dikuti setiap siswa. MAIS dengan kepanjangan Mentoring Agama Islam ini layaknya seperti forum kecil untuk membahas lebih dalam mengenai islam dengan dipimpin oleh mentor masing masing.


Ohiya, PMR sudah taka sing rasanya kalau soal PMR, organisasi dalam bilang kesehatan atau bisa jadi UGD kecil di sekolah. PMR ini sangat berperan saat upacara, karena PMR lah yang memantau seluruh siswa yang mengikuti upaca jikalau terjadi sesuatu salah satu siswa, maka PMR langsung sigap menjemput siswa yang sakit.


Ada lagi acara unik yang diselenggakarakan 1 tahun sekali, apaan tuh? Sanlat, yap sanlat adalah acara yang Cuma 1 tahun sekali. Sanlat dengan kepanjangan Pesantren Kilat ini, Menetapkan sistem belajar seperti di pondok pondok pesantren, dimulai dari pagi hari seperti hari biasa, setelah sholat asar siswa tbz ini tidaklah pulang melaikan melanjutkan acara seperti bungkus parcel untuk dibagikan ke warga sekitar sekolah islam ini. Setelah itu mandi lalu langsung membuat shaf di lapangan sambil menunggu adzan Maghrib.






Kegiatan diatas, adalah beberapa kegiatan yang biasa dilakukan para santriwan dan santriwati saat mengikuti acara sanlat








Tarhib Ramadhan

Karena acara ini dilaksanakan saat bulan ramadhan, jadi sambil nunggu adzan sekalian nunggu buka, pasti beda rasanya buka bareng temen2 mah
“Allahuakbar… Allahuakbar”
Suara adzan yang ditunggu pun berkumandang, saatnya berbuka puasa bersama keluarga sekolah SMPIT Thariq Bin Ziyad. Setelah itu dilanjutkan dengan Solat maghrib, makan malam, Sholat isya, sedikit materi kemudian istirahat untuk Qiyamulail keesokan harinya.

Selain Sanlat ada juga program dari sekolah dengan tema yang lebih deket dengan kekeluargaan, karena pada program ini setiap siswa memberikan sedikit bingkisan kecil dan beberapa parcel yang dibuat berkelompok untuk warga sekitar sekolahan ini, biasa disebut Tarhib Ramadhan. Acara yang diselenggarakan sehari sebelum bulan ramadhan dalam rangka berbagi untuk menyambut bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Begitulah kehidupan warga sekolah SMPIT Thariq Bin Ziyad ini, dipenuhi dengan canda tawa, penuh kasih saying, dan saling menghormati satu sama lain.
Sekian…
Wassalamualaikum.